BERITA

15 Sep
Awesome Image

Prof. Dr. Makmur Syarif, SH, M.Ag: Hormat pada Orang Tua dan Guru, akhirnya jadi Profesor

Dalam bedah buku yang berlangsung Selasa, (14/9) di aula Mansur Dt Nagari Basa Kampus UIN IB Lubuk Lintah ini, dihadiri oleh Rektor diwakili Warek III Dr. Ikhwan, SH, M.Ag dan Warek I Hetti Waluati Triana dan Warek III Prof. Dr. Firdaus, M.Ag, Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Sobhan dan Dekan Saintek Dr. Yasrul Huda dan tokoh intelektual lainnya, seperti guru besar Unand Prof. Dr. Yaswirman, MA. Juga hadir dalam acara  guru Makmur Syarif saat sekolah di MTI Candung Agam Buya Mawardi Gani dan Dosen beliau saat kuliah di IAIN Bukittinggi Muslim Mulyani serta para sahabat saat sekolah dulu.

Menurut Azyumardi Azra, Makmur Syarif adalah sosok intelektual yang gigih dan sangat peduli dengan pendidikan agama. Sehingga tidak bisa dipungkiri kalau ayah beliau Luthan Syarif tidak mengizinkan pendidikannya di sekolah umum. “Makmur harus sekolah di sekolah agama. Mau jadi apa nantinya jangan dipikirkan sekarang. Cari ilmu dulu. Karena kalau sudah berilmu apalagi ilmu agamanya sudah baik dengan akhalak yang tinggi, maka pekerjaan yang mencari kita. Itu kata kuncinya.

Makmur Syarif yang juga terlahir dan dibesarkan dari keluarga “buya” dan disebut dari golongan kaum santri atau di Minangkabau disebut dengan “kaum agama atau juga orang surau dan orang siak, maka tidak mengherankan putra dari pasangan Luthan Syarif dengan Siti Mukmin setelah menjadi serorang  Profesor dikenal dengan “intelektualitas dan etos religio-sosioal anak Madrasah.

Ditambahkan Azyumardi Azra Guru besar kelahiran Lubuk Alung Padang Pariaman ini, ada alam tradisi keagamaan yang berbasis surau atau madrasah sering dipandang sudah ketinggalan zaman, malah tidak menjanjikan apa-apa kecuali hanya menjadi labia atau pakiah saringgik . Anggapan itu dibantah oleh Prof. Makmur. Buktinya kalau beliau berpendidikan berbasis surau, ternyata bisa menjadi seorang intelektual di bidang Hukum Islam. Karirnya pun bisa sampai pada puncaknya yakni menjadi Rektor ke-15 saat masih berstatus IAIN Imam Bonjol Padang,’’katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof Syufiarma Marsidin. “Makmur Syarif yang saya kenal kalau beliau adalah seorang intelektual yang peduli dengan pendidikan agama Islam. Buktinya, dalam pola mentransfer ilmu, kepada anak didik (mahasiswa) di kampus, sering sekali ke-ilmuannya disandingkan dengan beberapa pengalaman cara mendapatkan pendidikannya di pesantren. Ilmu itu juga di terapkan di UIN Imam Bonjol Padang.

Karir ke-ilmuan dan akademis dalam lingkungan luas memunculkan motivasi baru antara Makmur Syarif dengan berbagai kalangan. Sehingga saat ini walau sudah 70 tahun, pengalaman karirnya di madrasah, kehidupan sosial dan serta ke-agamaan ternyata masih dibutuhkan banyak orang. Sehingga beliau sering terlibat dalam organisasi kemasyarakatan. Keilmuannya sangat ditunggu oleh banyak orang terutama yang haus akan pendidikan agama,’’terangnya.

Sementara itu, dua orang guru dan dosen dari Makmur Syarif seperti Mawardi Gani dan Muslim Mulyani, menyebutkan bisanya anak didik saya ini mencapai ilmu yang tinggi, kata kuncinya adalah beliau adalah orang yang patuh serta santun pada kedua orang tuanya. Dan sangat hormat pada guru-gurunya saat di sekolah. Agaknya inilah yang bisa membuatnya bisa mencapai karir pendidikannya hingga menjadi seorang Profesor yang selalu taat dengan agama. Tentunya, bagaimana proses jalan hidupnya dalam karir itu, layak dijadikan contoh dan ketauladanan bagi generasi muda saat ini dan masa mendatang,’’katanya. (nal)

Tek foto

70 TAHUN MAKMUR SYARIF—Buku autobiografi 70 tahun Prof. Makmur Syarif (guru besar UIN Imam Padang, diluncurkan dan dibedah dalam sebuah seminar. Secara simbolis buku itu diserahkan kepada Wakil Rektor III Ikhwan, Selasa, (14/9) di aula Mansur Dt. Nagari Basa.

Comments

Tinggalkan komentar

Kontak Kami