Sasaran

Guna mewujudkan laboratorium pengembangan ijtihad sosial, maka sasaran yang hendak dicapai adalah;

  1. Terwujudnya paradigma keilmuan syari’ah interaktif-dialogis;
  2. Terwujudnya reputasi akademis dalam bidang pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat;
  3. Terwujudnya suasana akademis yang sehat, dialogis, dan etis;
  4. Terumusnya sistem manajemen menuju tata kelola lembaga / fakultas yang baik / good governance;
  5. Terwujudnya jaringan kerjasama kelembagaan berbasis program.

Sejarah

Sejarah berdirinya Fakultas Syari'ah UIN Imam Bonjol Padang tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Fakultas Syari'ah di Bukittinggi. Fakultas Syari'ah di Bukittinggi berasal dari Fakultas Syari'ah Yayasan Imam Bonjol yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1963 dan kemudian berdasarkan SK Menteri Agama RI Nomor 76 Tahun 1966 tanggal 21 Nopember 1966, Fakultas ini dijadikan berstatus negeri (dinegerikan) serempat dengan diresmikannya IAIN Imam Bonjol Padang pada tanggal 29 Nopember 1966 berdasarkan SK Menteri Agama RI Nomor 77 Tahun 1966 tanggal 21 Nopember 1966. Dekan Pertama Fakultas Syari'ah UIN Imam Bonjol Padang adalah H. Mansur Dt. Nagari Basa. Semenjak dinegerikan secara bersamaan, Fakutlas Syari'ah telah mengalami banyak perkembangan.

Fakultas Syari'ah Bukittinggi sampai dengan tingkat Bacloread (Sarjana Muda) hanya mempunyai satu jurusan, yaitu Jurusan Syari'ah. Kemudian semenjak tahun 1968, Fakultas Syari'ah telah membuka tingkat Doktoral dengan dua jurusan, yaitu Jurusan Tafsir/Hadits dan Jurusan Qadha. Sedangkan perkembangan mahasiswa: Sarjana Muda dan Sarjana Lengkap pada Fakultas Syari'ah Bukittinggi sejak mulai dinegerikannya sampai ulang tahun yang ke-10 tidak menunjukkan angka kenaikan signifikan, rata-rata 166 orang.

Pada tahun 1975, telah dibuka Fakultas Syari'ah di Padang untuk mahasiswa tingkat doktoral (doktorandus). Pada bulan September 1975 tersebut, beberapa orang mahasiswa yang telah menyelesaikan studi pada tingkat Sarjana Muda (Bachalorius) pada Fakultas Syari'ah Bukittinggi melanjutkan studinya untuk tingkat doktoral pada Fakultas Syari'ah Padang dengan satu-satunya jurusan yang adalah Jurusan Qadha. Beberapa mahasiswa itu, antara lain: Makmur Syarif, Asasriwarni, Amiur Nuruddin, Lumban Hutabarat, Syafrinaldi, Zuraida, Rasimin Madin, Benyamin M. Samri, Syafrida, dan Zainal Arifin.

Perkuliahan Fakultas Syari'ah tingkat doktoral di Padang pada waktu itu diselenggarakan dalam bentuk kesederhanaan saja, karena keadaan mahasiswa, pimpinan, dan tenaga administrasi serta tenaga pengajar yang masih sangat kurang. Pada saat itu, Pimpinan Fakultas Syari'ah Padang dan tenaga administrasinya belum ada, hingga pengkoordinasiannya langsung dari Fakultas Syari'ah Bukittinggi. Oleh karena itu, untuk menanggulangi berbaga masalah Fakultas Syari'ah di Padang pada waktu, pada bulan September 1975, Dekan Fakultas Syari'ah Bukittinggi menerbitkan Surat Keputusan Nomor 11 Tahun 1975 tentang Penunjukkan Dosen Fakultas Syari'ah Bukittinggi untuk ditugaskan di Padang dan menjadikan mahasiswa tingkat doktoral menjadi Asisten Dosen dan membantu tugas-tugas administrasi, yaitu Djanizar Djalal, Asasriwarni, Makmur Syarif, Amiur Nuruddin.

Walaupun keadaan Fakultas Syari'ah pada waktu itu masih tersendat-sendat tetapi tetap saja berusaha mengadakan peningkatan. Hal ini terlihat pada tahun 1976 dari segi mahasiswa yang meningkat. Pada saat pertama kali dibuka, jumlah mahasiswa hanya 10 orang saja, dan meningkat menjadi 27 orang. Jumlah Dosen yang pada awalnya hanya 25 orang saja, meningkat menjadi 15 orang Dosen. Keadaan ini disebabkan karena bertambahnya volume kerja sehingga tenaga pengolah pun harus diperbanyak. Pada tahun ini juga, Fakultas Syari'ah mempunyai ruangan kantor, ruang belajar dan sarana prasarana lainnya.

Pada tahun 1976, dibuka studi untuk program sarjana strata satu pada Fakultas Syari'ah di Padang. Pada saat itu, UIN Imam Bonjol Padang dimpimpin oleh seorang Koordinator, yaitu Drs. H. Fauzan Misri el-Muhammadi, sedangkan untuk Fakultas Syari'ah dipimpin oleh Wakil Koordinator, yaitu: Dra. Djanizar Djalal yang membidangi urusan akademik dan administrasi keuangan. Adapun koordinator bidang kemahasiswaan adalah Drs. Asasriwarni.

Sejak tahun 1977, 5 Fakultas (Adab, Dakwah, Syari'ah, Tarbiyah, dan Ushuluddin) sudah dipusatkan di Padang, sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Barat berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 22 Tahun 1977 tanggal 18 April 1977 tentang Pemindahan Fakultas Syari'ah di Bukittinggi, Fakultas Ushuluddin di Padangpanjang, Fakultas Adab di Payakumbuh dalam Koordinasi IAIN Imam Bonjol di Padang. Surat Keputusan ini juga merubah kedudukan Fakultas Syari'ah di Bukittinggi menjadi cabang dari Fakultas Syari'ah dengan tetap bertempat di Bukittinggi, dan Fakultas Tarbiyah di Batusangkar.